Seakan Gereja Katolik Jadi Mimbar Politik
(Refleksi
Singkat Terkait Edaran Uskup Jayapura Yang Mengajak Umat Katolik Untuk Memilih
Calon Legislative Beragama Katolik)
Pada hari minggu 24 februari 2019, dewan paroki Gereja Gembala Baik Abepura dalam pengumuman,
membacakan surat edaran dari uskup jayapura mengenai pemilihan legislative
(pileg) yang akan berlangsung pada 17 april 2019 mendatang.
Dalam edaran itu, dibacakan seruan dan ajakan uskup
jayapura atas nama gereja katolik kepada umat untuk memilih calon legislative
beragama katolik yang akan berkonstentan di pemilu dalam wilayah kota jayapura maupun
provinsi papua demi kemajuan gereja ke depan.
Hal itu, membuat saya dan teman-teman kaget dan sempat
jadi perbincangan kami saat perjalanan pulang usai mengikuti misa (ibadah) pada
hari minggu itu. Saya sempat bertanya dalam hati bahwa, “seakan
gereja katolik tenggelam dalam politik praktis”. Di samping itu, beberapa
teman juga mengatakan hal yang sama kepada saya, “uskup kampanye politik di
gereja”, katan mereka dalam perjalanan pulang itu.
Kejadian
ini sungguh merupakan hal yang mengejutkan, sehingga membawa kesan tersendiri
bagi masing-masing umat, barangkali mungkin ada umat yang melihatnya
biasa-biasa saja, ada juga umat yang mungkin sepakat dan mendukung serta
mungkin juga ada umat yang bertanya-tanya seperti apa yang saya dan teman-teman
tanyakan.
Secara rasional, dapat kita nilai dan katakan bahwa, politik
sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan gereja, sekalipun dalam melalui
surat, edaran, kampanye, bantuan serta lain sebagainya. Disaat-saat musim
politik seperti ini, gereja sebenarnya hadir sebagai penetral dan jaminan
perdamaian dalam kehidupan social masyarakat menuju musim politik itu, bukan
sebaliknya gereja yang dibawa tenggelam dan berdiri sebagai panggung untuk
berpolitik. Sehingga, harapan semua pihak dapat tercapai dalam masyarakat. Apapun
dan siapapun yang mau di pilih umat itulah hak pilihnya masing-masing sesuai
hati nuraninya, sehingga tidak harus di batasi ataupun dipaksa dengan cara
intimidasi oleh siapapun atas nama apa saja, apalagi gereja. Ini merupakan
tindakan kurang rasional dan berakibat kurang baik untuk gereja pada masa-masa
yang akan datang kelak ketika Gereja tidak lagi di pandang sebagai corong
keselamatan kekal bagi umat manusia , melainkan sebagai tempat untuk ukir
kemajuan ataupun memajukan sesuatu tertentu.
Hal ini, sangat menakjubkan bagi umat dan menimbulkan
banyak pertanyaan-pertanyaan yang lebih mendasar kedalam tubuh gereja katolik
itu sendiri.
Sehingga, yang menjadi pertanyaan kritis ialah
sebenarnya kemajuan gereja apa yang di pikirkan oleh uskup jayapura hingga
mengeluarkan edaran seperti itu ?, apakah sampai saat ini gereja katolik belum
juga maju ?, ataukah siapa yang ingin memajukan siapa dalam gereja katolik ini
?
Beberapa pertanyaan diatas akhirnya bisa menjadi
perenungan kita bersama dan menjadi akhir tulisan saya ini, semoga jawaban
beberapa pertanyaan diatas dapat menghantar kita pada sebuah pertanyaan yang
lebih mendalam tentang, ada apa sebenarnya di dalam tubuh gereja katolik papua
?
(Yatipai Albert)
(Bukit Hening, 24/02/2019)
#Kumis_Kotor
Sebaiknya grj katolik menyuarakan kaum minororitas, kaum lemah dan kaum tertindas di tanah papua. Etnis oap semakin diambang kehancuran. Di mana mata grj kat memandang ???
BalasHapusTerimakasih saudara atas refleksi anda yg sangat mendalam. Namun Ada beberapa hal yang harus saudara perhatikan dan refleksi kembali atas refleksi saudara adalah: Pertama; Gambar dalam refleksi diatas. berkaitan dgn refleksi saudara yg berangkat dari ketika mndengar himbauan Uskup Jayapura, yg d bcakan oleh DPP Paroki Gembala Baik Abepura, di Abepura namun, gmbar yg saudara masukan dlm refleksi adalah gmbar Paroki St. Paulus Argapura, hal ini menimbulkan minimnya bobot refleksi saudara. Kedua; jika saudara sebagai umat Katolik yang baik, sangat tidak layak untuk menilai pimpinanmu mengenai masalah interen gereja di dunia publik. Ketiga; Seburuk apapun Uskupmu atau imammu, dia adalah orang yang hadir keduania dengan rahmat khusus. Keempat: Sebagai seorang pemimpin, menghimbau kepada umatnya untuk menanggapi situasi yang terjadi seperti sekarang ini misalnya: situasi Politik. Saya pikir ini sesuatu yang wajar. Yang kelima; Gereja dikatakan berpolitik apabila ayat" Kitab Suci dieksploitasi demi kepentingan politik (berkampanye), namun jika sebatas himbauan berrti itu sesuatu yg wajar.
BalasHapusOleh sebab itu, saya sarankan kepada saudara sebagai umat Allah yang baik, jika ada masalah seperti ini di lingkungan Agama (Paroki) saudara sebaiknya dibicarakan secara khusus, bukan dipublikasikan. Salam hangat dalam Kristus.....
trimakasih masukan dan sarannya saudara....
Hapussebagai pengikut kristus, apa yang benar itu sdh semestinya di suarakan....